Friday, November 9, 2012

Short Story: Nothing But Trouble


To: terry@buckingham.org
Dear Terry…
What are you doing right now? Hmm I hope reading my E-mail from your blackberry. Sorry can’t visit you. Bandung – Banda Aceh still far away, right? No bucks enough. You know the wage of clerk here in Indonesia don’t you? Anyway, why do you spend your holiday in Indonesia by sleeping at the hospital? Isn’t there any cozy hotel in Bandung? (Kidding…)  
Terry… I’ve heard what had happened to you yesterday night. Did you really drink that ‘thing’? I’m shocked. Because couple weeks ago, by voip1 You told me how pleased you were because you just got the man that you’ve been waiting for. I saw your face expression from the monitor. Wow, there were stars on your eyes and sugar on your smile. “Ima… he’s the one, he’s my hero, my sweetheart, my soulmate,” You said excitedly. Then whispered, “He told me that he loves me.” And I only said: I’m happy for you. No, not because I was jealous of your fortune. Of your face which is beautifully unique (A combination of Sundanese from your mother and British from your father). But Friend, deep down inside2, actually I wanted to say something on that day. It was: Be prepared for the worst.  

Life is fragile, my dearest pal…

You know about Fate and Destiny, don’t you? Do you notice that sometimes they walk to the north; sometimes they fly to the south? Sometimes waiting for changes will make you extremely tired. But sometimes when changes come, they will shock you to the bone3.
Do you realize that we live in high risk more often than in settled? Do you think your life would be safe from sorrow and sadness if only he came back and proposed4 you then you get married?
Ok, maybe you feel happy in wedding day and several years later. But after that, you and him (your husband) will wait for a baby, right? What if you can’t get pregnant? It would be a disaster for your married, wouldn’t it?
Suppose you get pregnant. You’re glad. But… only for a while. Why? Because soon, you will deal with5 another risks. The unpleasant and uncomfortable days along the pregnancy, for instance; Feeling sick in your stomach, problem with your sleep, emotions, eating habit, etc, etc.
Then, when time to deliver the baby comes, you will get another worry. Would my life and my baby be safe? Would my baby born in normal condition? Or maybe it would be deaf, mute, or even has no senses at all?    
Assume that you finally delivered a healthy adorable baby girl safely. That’s it? That’s all? No other risk?

No, my cute little buddy…

It ain’t over till it’s over6. You will feel a thousand anxieties. You will cope with a bunch of problems about your daughter, how you fulfill her needs, her education, her friends and behaviors, and so on. Problems about your people surrounding, perhaps about your mother in-law, your family’s husband, your neighbors etc. etc.
Well…Maybe after knowing all that you’d say: Fiuhhh… Life is nothing but trouble. But we have no choice, babe... We should go on.
That’s why we need God, Allah SWT. If you believe in God you must trust Him completely. Those problems are nil if we hold on to Him.
Have you ever wondering how I could carry on when I lost my mother, father, and my only sister in a roll7 in the tsunami and the earthquake five years year ago? On that horrible day I once thought that I would rather die than continue my life without them… I was pal… but Alhamdulillah, God said: If there are difficulties there must be easiness8. It’s not an easy life I live, though, I do still9 (and always) remember my parents, sisters, and my childhood at Meulaboh but I am grateful for what I have right now. I finally lied on10 Banda Aceh, hired as an employee at a cyber shop. A small one but fortunately I can OL11 anytime I want.
My dearest pal, you, should go on and always remember our prophet,
Rasulullah SAW said: “How lucky people who have faith in their heart; If they are blessed with happiness, they would be grateful. If they are assessed with problems, they would be patient”. And do not think about him again, OK? Don’t think about something that you can’t do anything about it. After all you’re only seventeen years old, girl! There’s so many thing in this world to do. So, wake up honey, stand up!
(By the way, when did you change your favorite drink? If I’m not mistaken, your favorite drink is Es Goyobot12 not Baygon, right? Kidding J… )

Ok, that’s all from me. Be tough and get well soon, sweetie…

Your Most Gorgeous friend ^_^

cut_halima@serambi-online.co.id

 

written by.Solasfiana for people who fool (not fall) in love.

Thursday, October 11, 2012

MOM's VIEW: Herbal... It's about choice...

Beberapa hari yang lalu, saya merasa tertohok dengan komentar pada status teman FB. Status teman tersebut menyoal  perilaku mereka yang anti imunisasi. Katanya, sikap keras para penganut anti imunisasi sangat meresahkan teman saya tersebut. Jelasnya saya tidak terlalu mengerti, karena kebetulan yang anti imunisasi itu tidak masuk friendlist FB saya. Jadi saya tidak tahu pasti kronologis dan status jelas si penganut anti imunisasi tersebut. Yang pasti teman saya ini yang pro imunisasi merasa agak keberatan pada stigma penganut anti imunisasi yang mencap mereka yang pro itu tidak lurus akidah nya, atau cenderung digolongkan sebagai antek yahudi (CMIIW)…
Saya tidak anti imunisasi, tapi memang dua dari tiga anak saya tidak saya imunisasi. Dan kebetulan pula, dua anak saya yang tidak imunisasi itu cenderung lebih jarang ke dokter daripada kakak tertuanya yang dari kecil amat sangat ‘bersahabat’ dengan dokter. Walaupun begitu saya tidak bersikap revolusioner dan lantas menghubung-hubungkan mereka yang pro imunisasi itu dengan akidah, antek yahudi dan lain sebagainya. Life, its about choices, lad
Anyway, Teman dari teman FB saya itu berkomentar seperti ini:
“iya aku serem ama kata2 orang atau status2 yg anti vaksin..kasar2 merasa dirinya paling benar..hadeuh cape deh,apa mereka gak baca catatannya dokter agnes gitu,disitu semuanya jelas.kl mereka buat catatan ujung2nya jualan herbal…”
Nah, kalimat: “Ujung2nya jualan herbal” ini lah yang membuat saya langsung ‘Deg!’ , tertegun sesaat dan langsung mengucap istighfar’ sambil menahan hati dan jari untuk tidak ikut memberi komen yang makin membuat panas situasi…
Astaghfirullah.. Subhanallah… mungkin ini ujian saya yang telah menetapkan hati untuk berjualan herbal. Apalgi kemarin, baru saja saya membuat blog tentang futur, dimana salah satunya penyebabnya adalah: ‘putus asa dalam berdakwah’
Yah, ketika suami saya beberapa tahun lalu, bertanya, kios milik almh. Ibunya mau diapakan. Karena pilihannya: dikontrakkan atau dipakai sendiri. Kalau dipakai sendiri, dipakai untuk usaha apa. Ada dua kecenderungan waktu itu. Usaha aqiqah atau herbal. Karena dua-duanya, menurut saya, bukan usaha biasa. Karena dua-duanya sama-sama memasyarakatkan sunnah Rasulullah.
Tapi dengan pertimbangan: konsumsi herbal bulanan keluarga yang bisa ratusan ribu (ya, anak-anak sebulan *kalau rutin bisa menghabiskan empat atau lima botol madu anak, saya dan suami rutin meminum minyak habbat dan madu murni untuk stamina, belum lagi yang accidental, seperti obat mata THM, dll). Lumayan menghemat kan, kalau kita membelinya di toko sendiri.
Jadi… terasa miris, ketika ada kata-kata “ujung2nya jualan herbal” ketika saya merasa this is not just about business… its about choice, lady… please…
Padahal dalam komentarnya ada kata-kata:
"iya aku serem ama kata2 orang atau status2 yg anti vaksin..kasar2 merasa dirinya paling benar..."
Bukankah kalimat: “ujung2nya jualan herbal” is also rude, dear?
Pada beberapa buyer online yang membeli herbal saya, saya pernah menyarankan, untuk membeli ke toko herbal yang dekat dengan lokasinya, karena saya merasa ‘not fair; aja kalau mereka membeli ke toko online saya harus membayar ongkos kirim yang bahkan lebih mahal dari harga obat herbalnya.
Ada satu buyer yang beberapa kali konsultasi tentang herbal tanpa membeli, dan Demi Allah, itu sangat-sangat saya hargai. Saya tidak merasa kesal, keqi, pundung atau apalah namnya, karena saya sudah senang ada orang yang mau menggunakan thibbun nabawi. Insya Allah, rezeki  bisa datang dari mana saja…
Langkah saya malah sering tersendat, ketika saya melihat ada seseorang yang mengeluh tentang penyakitnya, atau ada yang menanyakan obat apa yang cocok untuk penyakit yang sedang diderita, anak, atau saudaranya. Dulu sebelum jualan herbal, saya dengan santainya langsung menyarankan obat herbal. Karena memang saya sudah mengetahui manfaat dan khasiatnya serta efek sampingnya yang nyaris nol. Akan tetapi, ketika telah memutuskan untuk resmi berjualan herbal, saya malah jadi ragu-ragu untuk ikut memberi saran pada QN atau status-status tersebut. Saya terus terang khawatir pada anggapan “ujung-ujungnya jualan herbal” tadi…
Duuuh… inikah ujian buat keistiqomahan saya…. *Wallaahualam*

MOM's VIEW: Berat, tapi insya Allah berkah...

Proloog: Sebelum membaca coretan saya, mohon disadari sebelumnya, ini tentang thibbunnabawi, mungkin saya memang menjual obat, tapi insya Allah, ini usaha saya untuk mendapat sedikit cucuran dari gelombang berkah Allah…

Beberapa tahun yang lalu. Kira-kira jam 10 pagi itu, saya terima sms dari teman smu yang sudah lama tak berkirim kabar. Isinya minta didoakan karena ayahnya akan dicuci darah.

Sedikit aneh, karena seingat saya, ayah teman smu saya itu sudah lama menderita sakit jantung. Bahkan saya sempat menjenguk ke Harapan Kita ketika dirawat lima atau enam tahun lalu. Bukankah, kalau tidak salah,  cuci darah itu treatment buat sakit ginjal?
Jam 2 siangnya saya tidak terima sms lagi dari teman saya itu, melainkan telfon, “Solas, ayahku wafat, mohon maaf yah, kalau beliau ada salah,” Kata teman saya tersendat.

Usai penguburan saya berbincang dengan teman saya itu. Ya, memang Almarhum menderita sakit jantung. Sudah dua tahun beliau rutin mengkonsumsi obat untuk jantungnya dari dokter. Jantungnya memang aman-aman saja, namun rupanya ada organ lain yang tak sengaja terkena efek obat jantung tersebut, yaitu ginjal. Sayang, terdeteksinya sangat-sangat terlambat. Usaha cuci darah tidak membantu, ginjalnya sudah rusak teracuni obat.
Mungkin inilah, titik tolak saya untuk semakin yakin kepada pengobatan ala Nabi…   Sehingga, saya semakin bertekad untuk memasyarakatkan thibbunabawi, walau ternyata sulit…
Yah, siapa bilang berdakwah itu gampang?
Jangankan orang-orang yang belum kita kenal, kepada saudara, bahkan orang tua sekalipun, yang namanya mengenalkan thibbunabawi itu sulitnyaaa…

Contohnya, Ibu saya mengidap sakit jantung, segala macam herbal saya tawarkan, gratis tis tis, (masa sama ibu sendiri dihargain yah?). Ibu hanya mencoba satu dua kali saja, tapi setelah itu berhenti. Ngga ada perubahan katanya…
Well, memang salah satu ciri khas pengobatan herbal adalah, lama dan bertahap. Seperti sholat, kalau cuma sekali-kali, tidak rutin, tidak kontinyu, tak bakal terasa manfaatnya di perilaku kita sehari-hari. Begitu juga pengobatan herbal. Makanya, saya sering menekankan kepada para customer herbal saya, untuk memakai/meminumnya secara rutin, misalnya madu, dan lain-lain.
Itu setelah beberapa kali minum, baru terasa khasiatnya.

Oya, bukan berarti saya anti dokter dan obat kimia lho… Farras pernah ke rumah sakit karena pelipis nya robek jatuh dari motor. Sebelum dibawa ke rs saya kasih minyak tawon, karena terbukti ampuh menyetop darah yang mengalir. Di rumah sakit, baru dijahit lukanya.

Di kotak obat saya, masih ada obat penurun panas. Biasanya saya pakai ketika anak panasnya cukup tinggi dan saat malam. Untuk menghindari step/ kejang karena panas. Tapi kalau panasnya tidak terlalu tinggi saya pasti beri madu. Oya, masih ada tensoplast juga, hahaha…

Epiloog:
Ah, jadi ingat buku: Rasulullah is My Doctor nya Jerry D. Gray… Kapan yah, saya sempat bbikin resensi itu buku. Bermanfaat banget buat kita yang masih ragu dengan pengobatan ala nabi. Insya Allah someday, I will…

Monday, October 8, 2012

MOM'S VIEW: Daftar Orang Yang Membuatku Iri...

Iri memang tidak diperbolehkan.
Tapi, i'm only human...
sulit rasanya menghilangkan rasa itu, nah ini dia daftar beberapa orang yang bikin aku dengki....................

1.  Orang yang langsung mengambil wudhu saat adzan berkumandang lalu segera shalat.
2. Orang yang memiliki anak hafidz dan hafidzah.
3. Orang yang mengajari 'iqra anaknya tanpa ada bentakan sedikitpun.
4. Orang yang tawadhu, tapi tidak sombong dengan ketawadhuannya.
5. Orang yang shaum senin kamis tanpa orang lain tahu kecuali suaminya.

Yah, aku iri dengan mereka, iri sampai ke ubun-ubun... Because I can't, but I've been trying to...

Bismillah...

Thursday, September 20, 2012

MOM's VIEW: Menyoal Typhus

Proloog:
Lihat QN tentang anak yang sakit typhus, jadi ingin bahas sedikit tentang penyakit ini, tapi karena tiga anak saya belum pernah (mudah2an tidak akan pernah) jadi saya ambil dari blog sebelah, yaitu:

Tipes adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhosa. Sebagai penyebab tipes, bakteri Salomenella Typhosa bisa masuk ke dalam perut karena tertelan lewat makanan atau minuman tercemar. Bakteri ini kemudian bersarang di usus halus, lalu menggerogoti dinding usus. Jika kondisi ini dibiarkan, usus bisa luka dan sewaktu-waktu tukak tipus bisa jebol dan usus jadi bolong.
Kebanyakan penyakit tipes ditularkan melalui kotoran. Termasuk kuman yang hidup normal dalam usus hewan, ternak dan reptil, sumber daging unggas unggas kurang matang, telur, melalui anjing, kucing, makanan dan minuman tercemar (batu es), dari carrier yaitu orang sehat tetapi membawa kuman.

Gejala Penyakit Tipes

Berikut adalah gejala penyakit tipes: Penyakit tipes bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Kemudian mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga berkembang biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.
Gejala klinik tipes pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan gejala yang ditimbulkan antara lain:
  1. Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang malamnya demam tinggi.
  2. Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
  3. Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
  4. Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
  5. Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
  6. Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi gangguan kesadaran.

Pantangan Makanan Untuk Penyakit Tipes

Sayur – sayuran tinggi serat (bayam, kangkung, dll)
Pedas (cabe, merica)
Pada lima hari pertama buah – buahan juga tidak diperkenankan, kecuali air jeruk yang diminum sesudah makan.
Semoga bermanfaat. Syafakallaah buat yang sedang sakit, semoga Allah memberikan kesembuhan dan kesehatan kepada kita dan anak-anak kita selalu Aamiin Ya Rabb..


MOM'S VIEW: Bagai Putus Cinta

Punya anak tiga, lain-lain ternyata pengalaman menyapihnya...

Farras, Anak Pertama,
Ga sempat nyapih... Iya, Udah berhenti sendiri. Belum dua tahun pula usianya.Kalo ngga salah setahun tujuh bulan deh, farras mulai ogah minum ASI.
Mungkin karena waktu itu saya masih kerja kantoran, tanpa prt dan art pula, jadi makin lama makin berasa cape, makin tak enak pula rasa si ASI tersebut.
Atau mungkin karena gigi Farras yang sudah banyak tumbuh, dan sering menggigit sehingga saya kesakitan, dan lalu membuat saya seperti trauma kalau menyusui, sehingga secara psikologis,membuat air susu susah keluar. Entahlah...

Faiz, anak kedua,
Karena udah pengalaman, meski masih kerja, Faiz lulus S2 nya, alias ASI sampai dua tahun. bahkan lebih, ahahaha...
Tadinya, kukira Faiz bakal berhenti sendiri juga. Rupanya tidak, saudara-saudara.
Waktu usia dua tahun kurang dua minggu, saya berencana menyapihnya. Saya oles pake minyak tawon diam-diam. Nah, waktu Faiz mulai menghisap, sekejap dia lepas.
Ada yang aneh pastinya. Tapi cuma sebentar. Dia hisap lagi. Ngga mempan ternyata.
Jadilah saya manual mencegah Faiz tidak minum ASI, menghindar, menahan dengan segala cara.
Sempat dua hari tidak minum ASI. Cuma air putih, dan susu formula. Tapi selang tiga hari, Faiz kena sariawan. Bibirnya kering, pecah-pecah.Badannya kelihatan kurus, walau cuma beberapa hari tidak menyusu. Akhirnya saya tidak tahan. Saya kasih lagi lah itu ASI. Sampai tiga tahun!
Nah, gimana berhentinya? So simple.
Di antara ketiga anak saya. Pertumbuhan Faiz paling menonjol. 11 bulan sudah jalan, sepuluh bulan ngomongnya lancar benar dan jelas pula. Nah, ketika kakaknya sekolah, faiz kepingin ikut. Jadi tiga tahun kurang gitu, dia sudah ikut playgroup bersebelahan dengan kelas Farras. Tapi ASI tetep jalan lho...
Jadi jadwal menyusunya itu pulang sekolah ^_^
Satu hari, pulang sekolah dia menagih jadwalnya. Iseng saya berucap, "Ih, malu faiz, kalo faiz nenen, tiba2 ada temen sekolah faiz datang, terus ngeledek; 'ih faiz masih nenen.."
Subhanallaah, langsung berhenti. Tepp, saat itu juga sampai sekarang... Piece of cake yah.. hihihi...

Firly, si bungsu (insya Allaah)
Pengalaman ketiga inilah yang saya bilang berasa putus cinta.
Saat Firly lahir, saya sudah resmi berhenti kerja. Jadi full time bener deh saya menyusui si bungsu ini.
Menyusuinya pun sangat-sangat santai, seringnya malah sambil baringan. Mata saya dengan mata firly saling menatap.
Duh, maafin ummi ya, Faiz, Farras, kalau kalian tidak dapat best quality time in breastfeeding...
Mengingat pengalaman Faiz, saya jadi ragu untuk menyapih Firly. Dua tahun lewat, Firly masih bergantung betul dengan ASI, padahal, sekitar dua bulan sebelum dua tahun saya sudah memperkenalkan susu UHT. Doyan sih, tapi lebih doyan lagi dengan ASI, hihihi.. Dua tahun lewat dua bulan, tiga bulan... Aduh saya makin bingung...
Dan, entah kenapa, seperti sadar akan kemungkinan lepas ASI, Firly makin getol menyusunya. Hampir tiap saat ketika rumah sepi (Abi kerja, dua kakak nya sekolah), sepanjang hari Firly menempel saja. Kaya lagu, mau tidur ingat nenen,bangun tidur ingat nenen, kalau nangis, jatuh lah atau kelahi dengan kakak2nya, ingat nenen... Huffft...
Kerjaan rumah tangga terbengkalai. Bingung bin gemes. Padahal ngga ada art atau prt...
Hingga satu sore, di kamar Firly nangis minta menyusu. Dua kakak dan abinya sedang di ruang keluarga. Terasa sudah habis akal, saya ambil minyak kayu putih, di depan dia, bismillah, saya oles itu minyak ke (maaf) payudara saya tepat di hadapan Firly. Firly nangis sejadi-jadinya. Haduuh... perasaan saya tercabik-cabik (maaf lebay but its true)
Duhai, saya merasa kejam pada si bungsu ini. Abi dan dua kakaknya tergopoh masuk ke kamar ketika mendengar jeritan tangis Firly.
Aku jelaskan terbata pada abi. Dia langsung memeluk Firly (bukan meluk saya lho :P ). Di bawa keluar. Firly masih menangis sambil menatap saya dengan tatapan "how could you" yang memelas... Subhanallaah, Astagfirullah..
Saya seperti memutuskan sekaligus diputuskan cintanya... Saya nangis sesenggukan, beneran... huffft...
That night was a looong night... Firly tidur sama abinya. Biasanya kalau malam menangis,langsung berhenti kalau sudah menyusu.
Tapi malam itu, saya dan abinya bergantian mengelus punggungnya.
Besoknya saya tetapkan hati untuk tidak memberinya lagi, walau keadaan sepi. Ada rasa cemas, kalau-kalau kesehatannya menurun. Ada rasa ragu, campur aduk.
Dan.. voila, satu minggu (lama ya) kemudian Firly sudah 100% bebas ASI. Maksudnya, tanpa minta, tanpa nangis. Sekarang dia rutin minum susu UHT. Dan, madu tentu saja.
Kalau ditanya, atau saya sodorkan, "Firly, nenen?" Dia jawab tegas, "Nda mau, bau utih" maksudnya bau minyak kayu putih.
Hihihi... Alhamdulillaah... 

Sunday, September 16, 2012

(FF Keluarga MPers) Gara-gara Bunda Ima

Ini hari ketiga Wafa pulang sekolah membawa sesuatu dalam tasnya. Dua hari yang lalu kulit pisang,kemarin setangkai ranting mawar, dan hari ini, ini yang paling bahaya, sebilah paku.
Syukurlah tidak terkena tangan mungilnya. 

Melihat bawaan Wafa siang ini membuatku makin khawatir. Besok bawa apa lagi? Anak empat tahun, tugasnya sudah macam-macam. Kata Wafa benda-benda itu dia pungut dari jalan. Tapi, saat kutanya siapa yang menyuruhnya. Dia jawab, “Bunda Ima.” Guru PAUD nya.
Duh, apa maksudnya. Apa dia mau ajarkan anak didiknya untuk jadi pemulung? Hufft.
Di antara teman-temannya, Wafa mungkin masuk golongan kurang mampu,tapi bukan berarti pantas diajarkan menjadi pemulung kan…  Harga diriku sedikit tergores …
Kutanya Mama Alif, tetangga yang mau berbaik hati mengantar dan menjemput Wafa. Beliau tidak tahu.
Alif tak membawa apa-apa pulang sekolah.  Lagipula mereka langsung naik Mionya Mama Alif setiap pulang atau berangkat sekolah. Tuh kan, cuma Wafa… 

Hari ini, dengan hati panas, warung nasi kututup sementara. Sambil menggendong Ais dan kutuntun Wafa,aku bertemu Bunda Ima.

Setelah mengerutkan dahi beberapa saat, ia tersenyum. “Oh ya,  empat hari yang lalu ada guru yang sakit, kami mengumpulkan infak, Wafa terlihat sedih, Ummi hanya membekalkan nasi tiap hari bukan uang,jadi tidak bisa ikut infak,” ia meneruskan, “Jadi saya bilang, Wafa, beramal bukan cuma itu,menyingkirkan sesuatu dari jalan pun, misalnya duri atau semacamnya yang bisa mencelakakan orang,Wafa sudah mendapat pahala dari Allah…”  ***

Jumlah kata: 233

Inspired by:
Dalam sebuah riwayat disebutkan, ada seorang laki-laki yang tak pernah mengerjakan sebuah kebajikan sedikit pun, kecuali ia pernah menyingkirkan sepotong duri dari jalanan atau ia menghilangkan sepotong dahan pohon yang membahayakan orang lain. Dengannya Allah lalu memasukkannya ke dalam surga. (HR. Bukhari)