Sunday, September 16, 2012

(FF Keluarga MPers) Gara-gara Bunda Ima

Ini hari ketiga Wafa pulang sekolah membawa sesuatu dalam tasnya. Dua hari yang lalu kulit pisang,kemarin setangkai ranting mawar, dan hari ini, ini yang paling bahaya, sebilah paku.
Syukurlah tidak terkena tangan mungilnya. 

Melihat bawaan Wafa siang ini membuatku makin khawatir. Besok bawa apa lagi? Anak empat tahun, tugasnya sudah macam-macam. Kata Wafa benda-benda itu dia pungut dari jalan. Tapi, saat kutanya siapa yang menyuruhnya. Dia jawab, “Bunda Ima.” Guru PAUD nya.
Duh, apa maksudnya. Apa dia mau ajarkan anak didiknya untuk jadi pemulung? Hufft.
Di antara teman-temannya, Wafa mungkin masuk golongan kurang mampu,tapi bukan berarti pantas diajarkan menjadi pemulung kan…  Harga diriku sedikit tergores …
Kutanya Mama Alif, tetangga yang mau berbaik hati mengantar dan menjemput Wafa. Beliau tidak tahu.
Alif tak membawa apa-apa pulang sekolah.  Lagipula mereka langsung naik Mionya Mama Alif setiap pulang atau berangkat sekolah. Tuh kan, cuma Wafa… 

Hari ini, dengan hati panas, warung nasi kututup sementara. Sambil menggendong Ais dan kutuntun Wafa,aku bertemu Bunda Ima.

Setelah mengerutkan dahi beberapa saat, ia tersenyum. “Oh ya,  empat hari yang lalu ada guru yang sakit, kami mengumpulkan infak, Wafa terlihat sedih, Ummi hanya membekalkan nasi tiap hari bukan uang,jadi tidak bisa ikut infak,” ia meneruskan, “Jadi saya bilang, Wafa, beramal bukan cuma itu,menyingkirkan sesuatu dari jalan pun, misalnya duri atau semacamnya yang bisa mencelakakan orang,Wafa sudah mendapat pahala dari Allah…”  ***

Jumlah kata: 233

Inspired by:
Dalam sebuah riwayat disebutkan, ada seorang laki-laki yang tak pernah mengerjakan sebuah kebajikan sedikit pun, kecuali ia pernah menyingkirkan sepotong duri dari jalanan atau ia menghilangkan sepotong dahan pohon yang membahayakan orang lain. Dengannya Allah lalu memasukkannya ke dalam surga. (HR. Bukhari)

No comments:

Post a Comment