Saya tidak anti imunisasi, tapi memang dua dari tiga anak saya tidak saya imunisasi. Dan kebetulan pula, dua anak saya yang tidak imunisasi itu cenderung lebih jarang ke dokter daripada kakak tertuanya yang dari kecil amat sangat ‘bersahabat’ dengan dokter. Walaupun begitu saya tidak bersikap revolusioner dan lantas menghubung-hubungkan mereka yang pro imunisasi itu dengan akidah, antek yahudi dan lain sebagainya. Life, its about choices, lad…
Anyway, Teman dari teman FB saya itu berkomentar seperti ini:
“iya aku serem ama kata2 orang atau status2 yg anti vaksin..kasar2 merasa dirinya paling benar..hadeuh cape deh,apa mereka gak baca catatannya dokter agnes gitu,disitu semuanya jelas.kl mereka buat catatan ujung2nya jualan herbal…”
Nah, kalimat: “Ujung2nya jualan herbal” ini lah yang membuat saya langsung ‘Deg!’ , tertegun sesaat dan langsung mengucap istighfar’ sambil menahan hati dan jari untuk tidak ikut memberi komen yang makin membuat panas situasi…
Astaghfirullah.. Subhanallah… mungkin ini ujian saya yang telah menetapkan hati untuk berjualan herbal. Apalgi kemarin, baru saja saya membuat blog tentang futur, dimana salah satunya penyebabnya adalah: ‘putus asa dalam berdakwah’
Yah, ketika suami saya beberapa tahun lalu, bertanya, kios milik almh. Ibunya mau diapakan. Karena pilihannya: dikontrakkan atau dipakai sendiri. Kalau dipakai sendiri, dipakai untuk usaha apa. Ada dua kecenderungan waktu itu. Usaha aqiqah atau herbal. Karena dua-duanya, menurut saya, bukan usaha biasa. Karena dua-duanya sama-sama memasyarakatkan sunnah Rasulullah.
Tapi dengan pertimbangan: konsumsi herbal bulanan keluarga yang bisa ratusan ribu (ya, anak-anak sebulan *kalau rutin bisa menghabiskan empat atau lima botol madu anak, saya dan suami rutin meminum minyak habbat dan madu murni untuk stamina, belum lagi yang accidental, seperti obat mata THM, dll). Lumayan menghemat kan, kalau kita membelinya di toko sendiri.
Jadi… terasa miris, ketika ada kata-kata “ujung2nya jualan herbal” ketika saya merasa this is not just about business… its about choice, lady… please…
Padahal dalam komentarnya ada kata-kata:
"iya aku serem ama kata2 orang atau status2 yg anti vaksin..kasar2 merasa dirinya paling benar..."
Bukankah kalimat: “ujung2nya jualan herbal” is also rude, dear?
Pada beberapa buyer online yang membeli herbal saya, saya pernah menyarankan, untuk membeli ke toko herbal yang dekat dengan lokasinya, karena saya merasa ‘not fair; aja kalau mereka membeli ke toko online saya harus membayar ongkos kirim yang bahkan lebih mahal dari harga obat herbalnya.
Ada satu buyer yang beberapa kali konsultasi tentang herbal tanpa membeli, dan Demi Allah, itu sangat-sangat saya hargai. Saya tidak merasa kesal, keqi, pundung atau apalah namnya, karena saya sudah senang ada orang yang mau menggunakan thibbun nabawi. Insya Allah, rezeki bisa datang dari mana saja…
Langkah saya malah sering tersendat, ketika saya melihat ada seseorang yang mengeluh tentang penyakitnya, atau ada yang menanyakan obat apa yang cocok untuk penyakit yang sedang diderita, anak, atau saudaranya. Dulu sebelum jualan herbal, saya dengan santainya langsung menyarankan obat herbal. Karena memang saya sudah mengetahui manfaat dan khasiatnya serta efek sampingnya yang nyaris nol. Akan tetapi, ketika telah memutuskan untuk resmi berjualan herbal, saya malah jadi ragu-ragu untuk ikut memberi saran pada QN atau status-status tersebut. Saya terus terang khawatir pada anggapan “ujung-ujungnya jualan herbal” tadi…
Duuuh… inikah ujian buat keistiqomahan saya…. *Wallaahualam*
No comments:
Post a Comment