Punya anak tiga, lain-lain ternyata pengalaman menyapihnya...
Farras, Anak Pertama,
Ga sempat nyapih... Iya, Udah berhenti sendiri. Belum dua tahun pula usianya.Kalo ngga salah setahun tujuh bulan deh, farras mulai ogah minum ASI.
Mungkin karena waktu itu saya masih kerja kantoran, tanpa prt dan art pula, jadi makin lama makin berasa cape, makin tak enak pula rasa si ASI tersebut.
Atau mungkin karena gigi Farras yang sudah banyak tumbuh, dan sering menggigit sehingga saya kesakitan, dan lalu membuat saya seperti trauma kalau menyusui, sehingga secara psikologis,membuat air susu susah keluar. Entahlah...
Faiz, anak kedua,
Karena udah pengalaman, meski masih kerja, Faiz lulus S2 nya, alias ASI sampai dua tahun. bahkan lebih, ahahaha...
Tadinya, kukira Faiz bakal berhenti sendiri juga. Rupanya tidak, saudara-saudara.
Waktu usia dua tahun kurang dua minggu, saya berencana menyapihnya. Saya oles pake minyak tawon diam-diam. Nah, waktu Faiz mulai menghisap, sekejap dia lepas.
Ada yang aneh pastinya. Tapi cuma sebentar. Dia hisap lagi. Ngga mempan ternyata.
Jadilah saya manual mencegah Faiz tidak minum ASI, menghindar, menahan dengan segala cara.
Sempat
dua hari tidak minum ASI. Cuma air putih, dan susu formula. Tapi selang
tiga hari, Faiz kena sariawan. Bibirnya kering, pecah-pecah.Badannya
kelihatan kurus, walau cuma beberapa hari tidak menyusu. Akhirnya saya
tidak tahan. Saya kasih lagi lah itu ASI. Sampai tiga tahun!
Nah, gimana berhentinya? So simple.
Di
antara ketiga anak saya. Pertumbuhan Faiz paling menonjol. 11 bulan
sudah jalan, sepuluh bulan ngomongnya lancar benar dan jelas pula. Nah,
ketika kakaknya sekolah, faiz kepingin ikut. Jadi tiga tahun kurang
gitu, dia sudah ikut playgroup bersebelahan dengan kelas Farras. Tapi
ASI tetep jalan lho...
Jadi jadwal menyusunya itu pulang sekolah ^_^
Satu
hari, pulang sekolah dia menagih jadwalnya. Iseng saya berucap, "Ih,
malu faiz, kalo faiz nenen, tiba2 ada temen sekolah faiz datang, terus
ngeledek; 'ih faiz masih nenen.."
Subhanallaah, langsung berhenti. Tepp, saat itu juga sampai sekarang... Piece of cake yah.. hihihi...
Firly, si bungsu (insya Allaah)
Pengalaman ketiga inilah yang saya bilang berasa putus cinta.
Saat Firly lahir, saya sudah resmi berhenti kerja. Jadi full time bener deh saya menyusui si bungsu ini.
Menyusuinya pun sangat-sangat santai, seringnya malah sambil baringan. Mata saya dengan mata firly saling menatap.
Duh, maafin ummi ya, Faiz, Farras, kalau kalian tidak dapat best quality time in breastfeeding...
Mengingat
pengalaman Faiz, saya jadi ragu untuk menyapih Firly. Dua tahun lewat,
Firly masih bergantung betul dengan ASI, padahal, sekitar dua bulan
sebelum dua tahun saya sudah memperkenalkan susu UHT. Doyan sih, tapi
lebih doyan lagi dengan ASI, hihihi.. Dua tahun lewat dua bulan, tiga
bulan... Aduh saya makin bingung...
Dan, entah kenapa, seperti sadar
akan kemungkinan lepas ASI, Firly makin getol menyusunya. Hampir tiap
saat ketika rumah sepi (Abi kerja, dua kakak nya sekolah), sepanjang
hari Firly menempel saja. Kaya lagu, mau tidur ingat nenen,bangun tidur ingat nenen, kalau nangis, jatuh lah atau kelahi dengan kakak2nya, ingat nenen... Huffft...
Kerjaan rumah tangga terbengkalai. Bingung bin gemes. Padahal ngga ada art atau prt...
Hingga
satu sore, di kamar Firly nangis minta menyusu. Dua kakak dan abinya
sedang di ruang keluarga. Terasa sudah habis akal, saya ambil minyak
kayu putih, di depan dia, bismillah, saya oles itu minyak ke (maaf)
payudara saya tepat di hadapan Firly. Firly nangis sejadi-jadinya.
Haduuh... perasaan saya tercabik-cabik (maaf lebay but its true)
Duhai, saya merasa kejam pada si bungsu ini. Abi dan dua kakaknya tergopoh masuk ke kamar ketika mendengar jeritan tangis Firly.
Aku
jelaskan terbata pada abi. Dia langsung memeluk Firly (bukan meluk saya
lho :P ). Di bawa keluar. Firly masih menangis sambil menatap saya
dengan tatapan "how could you" yang memelas... Subhanallaah,
Astagfirullah..
Saya seperti memutuskan sekaligus diputuskan cintanya... Saya nangis sesenggukan, beneran... huffft...
That night was a looong night... Firly tidur sama abinya. Biasanya kalau malam menangis,langsung berhenti kalau sudah menyusu.
Tapi malam itu, saya dan abinya bergantian mengelus punggungnya.
Besoknya
saya tetapkan hati untuk tidak memberinya lagi, walau keadaan sepi. Ada
rasa cemas, kalau-kalau kesehatannya menurun. Ada rasa ragu, campur
aduk.
Dan.. voila, satu minggu (lama ya) kemudian Firly sudah 100%
bebas ASI. Maksudnya, tanpa minta, tanpa nangis. Sekarang dia rutin
minum susu UHT. Dan, madu tentu saja.
Kalau ditanya, atau saya sodorkan, "Firly, nenen?" Dia jawab tegas, "Nda mau, bau utih" maksudnya bau minyak kayu putih.
Hihihi... Alhamdulillaah...
No comments:
Post a Comment