Thursday, October 11, 2012

MOM's VIEW: Herbal... It's about choice...

Beberapa hari yang lalu, saya merasa tertohok dengan komentar pada status teman FB. Status teman tersebut menyoal  perilaku mereka yang anti imunisasi. Katanya, sikap keras para penganut anti imunisasi sangat meresahkan teman saya tersebut. Jelasnya saya tidak terlalu mengerti, karena kebetulan yang anti imunisasi itu tidak masuk friendlist FB saya. Jadi saya tidak tahu pasti kronologis dan status jelas si penganut anti imunisasi tersebut. Yang pasti teman saya ini yang pro imunisasi merasa agak keberatan pada stigma penganut anti imunisasi yang mencap mereka yang pro itu tidak lurus akidah nya, atau cenderung digolongkan sebagai antek yahudi (CMIIW)…
Saya tidak anti imunisasi, tapi memang dua dari tiga anak saya tidak saya imunisasi. Dan kebetulan pula, dua anak saya yang tidak imunisasi itu cenderung lebih jarang ke dokter daripada kakak tertuanya yang dari kecil amat sangat ‘bersahabat’ dengan dokter. Walaupun begitu saya tidak bersikap revolusioner dan lantas menghubung-hubungkan mereka yang pro imunisasi itu dengan akidah, antek yahudi dan lain sebagainya. Life, its about choices, lad
Anyway, Teman dari teman FB saya itu berkomentar seperti ini:
“iya aku serem ama kata2 orang atau status2 yg anti vaksin..kasar2 merasa dirinya paling benar..hadeuh cape deh,apa mereka gak baca catatannya dokter agnes gitu,disitu semuanya jelas.kl mereka buat catatan ujung2nya jualan herbal…”
Nah, kalimat: “Ujung2nya jualan herbal” ini lah yang membuat saya langsung ‘Deg!’ , tertegun sesaat dan langsung mengucap istighfar’ sambil menahan hati dan jari untuk tidak ikut memberi komen yang makin membuat panas situasi…
Astaghfirullah.. Subhanallah… mungkin ini ujian saya yang telah menetapkan hati untuk berjualan herbal. Apalgi kemarin, baru saja saya membuat blog tentang futur, dimana salah satunya penyebabnya adalah: ‘putus asa dalam berdakwah’
Yah, ketika suami saya beberapa tahun lalu, bertanya, kios milik almh. Ibunya mau diapakan. Karena pilihannya: dikontrakkan atau dipakai sendiri. Kalau dipakai sendiri, dipakai untuk usaha apa. Ada dua kecenderungan waktu itu. Usaha aqiqah atau herbal. Karena dua-duanya, menurut saya, bukan usaha biasa. Karena dua-duanya sama-sama memasyarakatkan sunnah Rasulullah.
Tapi dengan pertimbangan: konsumsi herbal bulanan keluarga yang bisa ratusan ribu (ya, anak-anak sebulan *kalau rutin bisa menghabiskan empat atau lima botol madu anak, saya dan suami rutin meminum minyak habbat dan madu murni untuk stamina, belum lagi yang accidental, seperti obat mata THM, dll). Lumayan menghemat kan, kalau kita membelinya di toko sendiri.
Jadi… terasa miris, ketika ada kata-kata “ujung2nya jualan herbal” ketika saya merasa this is not just about business… its about choice, lady… please…
Padahal dalam komentarnya ada kata-kata:
"iya aku serem ama kata2 orang atau status2 yg anti vaksin..kasar2 merasa dirinya paling benar..."
Bukankah kalimat: “ujung2nya jualan herbal” is also rude, dear?
Pada beberapa buyer online yang membeli herbal saya, saya pernah menyarankan, untuk membeli ke toko herbal yang dekat dengan lokasinya, karena saya merasa ‘not fair; aja kalau mereka membeli ke toko online saya harus membayar ongkos kirim yang bahkan lebih mahal dari harga obat herbalnya.
Ada satu buyer yang beberapa kali konsultasi tentang herbal tanpa membeli, dan Demi Allah, itu sangat-sangat saya hargai. Saya tidak merasa kesal, keqi, pundung atau apalah namnya, karena saya sudah senang ada orang yang mau menggunakan thibbun nabawi. Insya Allah, rezeki  bisa datang dari mana saja…
Langkah saya malah sering tersendat, ketika saya melihat ada seseorang yang mengeluh tentang penyakitnya, atau ada yang menanyakan obat apa yang cocok untuk penyakit yang sedang diderita, anak, atau saudaranya. Dulu sebelum jualan herbal, saya dengan santainya langsung menyarankan obat herbal. Karena memang saya sudah mengetahui manfaat dan khasiatnya serta efek sampingnya yang nyaris nol. Akan tetapi, ketika telah memutuskan untuk resmi berjualan herbal, saya malah jadi ragu-ragu untuk ikut memberi saran pada QN atau status-status tersebut. Saya terus terang khawatir pada anggapan “ujung-ujungnya jualan herbal” tadi…
Duuuh… inikah ujian buat keistiqomahan saya…. *Wallaahualam*

MOM's VIEW: Berat, tapi insya Allah berkah...

Proloog: Sebelum membaca coretan saya, mohon disadari sebelumnya, ini tentang thibbunnabawi, mungkin saya memang menjual obat, tapi insya Allah, ini usaha saya untuk mendapat sedikit cucuran dari gelombang berkah Allah…

Beberapa tahun yang lalu. Kira-kira jam 10 pagi itu, saya terima sms dari teman smu yang sudah lama tak berkirim kabar. Isinya minta didoakan karena ayahnya akan dicuci darah.

Sedikit aneh, karena seingat saya, ayah teman smu saya itu sudah lama menderita sakit jantung. Bahkan saya sempat menjenguk ke Harapan Kita ketika dirawat lima atau enam tahun lalu. Bukankah, kalau tidak salah,  cuci darah itu treatment buat sakit ginjal?
Jam 2 siangnya saya tidak terima sms lagi dari teman saya itu, melainkan telfon, “Solas, ayahku wafat, mohon maaf yah, kalau beliau ada salah,” Kata teman saya tersendat.

Usai penguburan saya berbincang dengan teman saya itu. Ya, memang Almarhum menderita sakit jantung. Sudah dua tahun beliau rutin mengkonsumsi obat untuk jantungnya dari dokter. Jantungnya memang aman-aman saja, namun rupanya ada organ lain yang tak sengaja terkena efek obat jantung tersebut, yaitu ginjal. Sayang, terdeteksinya sangat-sangat terlambat. Usaha cuci darah tidak membantu, ginjalnya sudah rusak teracuni obat.
Mungkin inilah, titik tolak saya untuk semakin yakin kepada pengobatan ala Nabi…   Sehingga, saya semakin bertekad untuk memasyarakatkan thibbunabawi, walau ternyata sulit…
Yah, siapa bilang berdakwah itu gampang?
Jangankan orang-orang yang belum kita kenal, kepada saudara, bahkan orang tua sekalipun, yang namanya mengenalkan thibbunabawi itu sulitnyaaa…

Contohnya, Ibu saya mengidap sakit jantung, segala macam herbal saya tawarkan, gratis tis tis, (masa sama ibu sendiri dihargain yah?). Ibu hanya mencoba satu dua kali saja, tapi setelah itu berhenti. Ngga ada perubahan katanya…
Well, memang salah satu ciri khas pengobatan herbal adalah, lama dan bertahap. Seperti sholat, kalau cuma sekali-kali, tidak rutin, tidak kontinyu, tak bakal terasa manfaatnya di perilaku kita sehari-hari. Begitu juga pengobatan herbal. Makanya, saya sering menekankan kepada para customer herbal saya, untuk memakai/meminumnya secara rutin, misalnya madu, dan lain-lain.
Itu setelah beberapa kali minum, baru terasa khasiatnya.

Oya, bukan berarti saya anti dokter dan obat kimia lho… Farras pernah ke rumah sakit karena pelipis nya robek jatuh dari motor. Sebelum dibawa ke rs saya kasih minyak tawon, karena terbukti ampuh menyetop darah yang mengalir. Di rumah sakit, baru dijahit lukanya.

Di kotak obat saya, masih ada obat penurun panas. Biasanya saya pakai ketika anak panasnya cukup tinggi dan saat malam. Untuk menghindari step/ kejang karena panas. Tapi kalau panasnya tidak terlalu tinggi saya pasti beri madu. Oya, masih ada tensoplast juga, hahaha…

Epiloog:
Ah, jadi ingat buku: Rasulullah is My Doctor nya Jerry D. Gray… Kapan yah, saya sempat bbikin resensi itu buku. Bermanfaat banget buat kita yang masih ragu dengan pengobatan ala nabi. Insya Allah someday, I will…

Monday, October 8, 2012

MOM'S VIEW: Daftar Orang Yang Membuatku Iri...

Iri memang tidak diperbolehkan.
Tapi, i'm only human...
sulit rasanya menghilangkan rasa itu, nah ini dia daftar beberapa orang yang bikin aku dengki....................

1.  Orang yang langsung mengambil wudhu saat adzan berkumandang lalu segera shalat.
2. Orang yang memiliki anak hafidz dan hafidzah.
3. Orang yang mengajari 'iqra anaknya tanpa ada bentakan sedikitpun.
4. Orang yang tawadhu, tapi tidak sombong dengan ketawadhuannya.
5. Orang yang shaum senin kamis tanpa orang lain tahu kecuali suaminya.

Yah, aku iri dengan mereka, iri sampai ke ubun-ubun... Because I can't, but I've been trying to...

Bismillah...